Waspada! Osgood Schlatter Disease Mengincar Kalangan Remaja Aktif
June 23, 2019
Hati-hati! Penyakit Pertumbuhan Bakteri Pada Usus Kecil (SIBO) Sulit Terdeteksi
June 23, 2019
Show all

Pentingnya Mengatur Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat Bagi Calon Ibu Agar Terhindar dari Hipertensi Kehamilan

Pentingnya Mengatur Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat Bagi Calon Ibu Agar Terhindar dari Hipertensi Kehamilan

Hipertensi kehamilan merupakan suatu kondisi yang sangat jarang pada kehamilan. Hampir sekitar 5-8% ibu hamil di Amerika mengalami kondisi ini. Namun jika hipertensi saat kehamilan tidak ditangani dengan baik maka memiliki dampak risiko besar pada bayi dalam kandungan dan keselamatan ibu hamil itu sendiri.

Hipertensi Kehamilan  

Hipertensi kehamilan merupakan kondisi peningkatan tekanan darah dengan tensi di atas 140/90 mmHg yang dialami oleh ibu hamil usia 20-40 tahun mulai dari trimester pertama sampai masa melahirkan. Hipertensi kehamilan akan berujung pada munculnya kondisi pre-eclampsia yang ditandai dengan naiknya tekanan darah dan protein di dalam urin. Hipertensi kehamilan sangat umum terjadi, persentasenya mencapai 2-3%.

Bisakah seseorang tanpa hipertensi bisa mengalaminya?

Biasanya seorang calon ibu yang sudah mengalami hipertensi maka hipertensi saat hamil akan lebih berisiko lagi, atau biasa disebut dengan Hipertensi Kronis. Namun ada juga yang tetap terkena preeklamsia walaupun tidak ada riwayat hipertensi. Selama kehamilan kelainan ini tidak bisa disembuhkan. Tapi biasanya setelah melahirkan penyakit ini sembuh dengan sendirinya.

Penyebab dan Gejala

Pola makan dan gaya hidup sehat sebelum hamil sangat menentukan adanya risiko hipertensi kehamilan:

  • Mengkonsumsi makanan junk food, garam berlebihan, merokok, minum alkohol, dan minum kafein.
  • Berdasarkan studi oleh Medical University of South Carolina, mengemukakan bahwa obesitas dapat meningkatkan tekanan darah melalui stres oksidatif.
  • Kemudian diperparah lagi dengan jarang berolahraga atau senam khusus ibu hamil, sehingga lemak semakin menumpuk dalam tubuh.
  • Mengkonsumsi makanan yang tidak sehat akan berdampak pada peningkatan kadar protein dalam urine yang melebihi 0,3 g/liter. Hal ini membuat urine sisa metabolisme sangat kecil karenan adanya tumpukan protein yang bocor yang ikut terbuang bersama urine.

Hipertensi kehamilan dapat diketahui dari beberapa gejala berikut ini, antara lain:

  • Kepala terasa sangat sakit, kemudian penglihatan menjadi kabur atau sensitivitas cahaya.
  • Perut terasa mual dan ingin muntah. Hal ini berbeda dengan saat pertama kali mengetahui hamil.
  • Perut bagian atas terasa nyeri, lebih tepatnya di bawah tulang rusuk pada sisi kanan.
  • Dada terasa sesak saat bernapas karena cairan di paru-paru.
  • Dari hasil cek laboratorium maka ditemukan kadar trombosit dalam darah menurun.
  • Adanya gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan kelebihan protein dalam urine (proteinuria).
  • Berat badan mengalami kenaikan secara tiba-tiba disertai dengan pembekakan (edema) pada wajah dan tangan. Kondisi ini biasanya disertai dengan pre-eclampsia.

Jenis Hipertensi Ibu Hamil

Hipertensi kehamilan memiliki beberapa jenis yang dibedakan dari faktor penyebab masing-masing kondisi. Antara lain:

  • Hipertensi Gestasional. Terjadi pada ibu hamil yang telah memasuki trimester 2 atau setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini tidak ditemukan adanya kelebihan protein dalam urine dan kerusakan organ-organ lain. Namun perlu diwaspadai bahwa ibu hamil dengan hipertensi gestasional nantinya akan berkembang menjadi pre-eclampsia.
  • Hipertensi Kronis. Hipertensi ini terjadi sebelum memasuki trimester ke-2 atau belum mencapai usia kehamilan 20 minggu. Tensi darah hipertensi kronis bisa mencapai 160/110 mmHg bahkan lebih. Jika tekanan darah pasca melahirkan 12 minggu tidak kembali normal maka penderita akan mengalami hipertensi kronis sepanjang waktu.
  • Hipertensi Kronis dengan Superimposed Pre-eclampsia. Kondisi ini dialami oleh ibu hamil dengan hipertensi kronis kemudian diperparah adanya kelebihan kadar protein dalam urine. Hipertensi ini terjadi saat sebelum memasuki usia kehamilan 20 minggu.
  • Hipertensi Pre-eclampsia dan Eclampsia. Pre-eclampsia adalah manifestasi dari hipertensi gestasional dan hipertensi kronis yang berujung dengan adanya komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan organ-organ tubuh lainnya. Hipertensi ini biasanya terjadi memasuki trimester ke-3 atau setelah kehamilan 20 minggu.

Sementara Eclampsia merupakan kondisi berbahaya saat hamil sehingga ibu hamil mengalami kejang. Ibu hamil dengan pre-eclampsia akan mengalami kondisi eclampsia. Gejala lain yang terjadi antara lain mual, nyeri kepala, nyeri hiperrefleksia dan epigastrium sehingga mengganggu penglihatan.

 

Resiko Hipertensi Ibu Hamil

Hipertensi kehamilan bukan saja berdampak buruk bagi ibu hamil itu sendiri, namun juga mengancam keselamatan bayi yang ada di dalam kandungan. Selain itu berikut ini beberapa risiko hipertensi kehamilan yang harus diwaspadai, seperti:

  • Terjadi penurunan aliran darah ke plasenta. Ketika plasenta tidak mendapat cukup darah, sehingga bayi kekurangan oksigen dan kekurangan gizi dan membuat pertumbuhan bayi menjadi lambat. Kemungkinan bayi lahir dengan premature atau bobot bayi di bawah normal.
  • Placental Abruption. Merupakan kondisi yang mana terpisahnya plasenta dengan dinding rahim sebelum masa kelahiran. Hal ini berdampak terjadinya pendarahan hebat dan kerusakan plasenta, sehingga dapat mengancam jiwa ibu beserta perkembangan janin.
  • Bayi lahir premature. Risiko ini sangat tinggi terjadi, karenanya perlu kesadaran tinggi untuk menjaga kehamilan guna mencegah ancaman nyawa bagi bayi premature yang dilahirkan.
  • Mengalami penyakit kardiovaskular. Pre-eclampsia memicu risiko penyakit jantung bagi ibu hamil dengan pre-eclampsia lebih dari dua kali dan pernah mengalami kelahiran premature.   

Penanganan dan Pencegahan

Hipertensi kehamilan bisa dicegah dan ditangani dengan mengatur pola makan dan gaya hidup sehat sebelum hamil dan semasa kehamilan. Untuk menjaga lonjakan tekanan darah saat hamil, perlu adanya langkah preventif yang tepat. Tensi darah normal saat hamil bisa dilihat sebagai berikut:

  • Trimester ke-1 (kehamilan bulan ke 1-3): tensi darah normal 120/80 mmHg.
  • Trimester ke-2 (kehamilan bulan 4-6): tensi darah normal 90/60 mmHg.

Catatan: Pada trimester ke-2 tekanan darah cenderung menurun sehingga butuh banyak asupan nutrisi yang lebih banyak dari trimester sebelumnya.

  • Trimester ke-3 (kehamilan bulan 6-9): tensi darah normal 120/80 mmHg.

Umumnya hipertensi kehamilan akan hilang secara alami setelah melahirkan. Hanya kondisi tertentu saja yang bertahan lama seperti Hipertensi Kronis. Ada baiknya melakukan pencegahan dan pengontrolan tekanan darah saat hamil, seperti:

  • Perhatikan pola makan sehat memenuhi gizi seimbang, protein, mineral, karbohidrat, dan vitamin. Ini bisa didapat dari sayur-sayuran, buah-buahan, dan susu.
  • Mengkonsumsi makanan penurun tekanan darah seperti cokelat, ikan, pisang, jeruk, dan bawang putih.
  • Tidak merokok, minum alkohol, dan kafein.
  • Rutin olahraga seperti jalan santai di pagi hari, renang, atau yoga.
  • Hindari stres dengan mendegar musik instrumental sambil membaca buku atau kegiatan lain yang menyenangkan suasana hati.
  • Cukup tidur dan rutin mengontrol kehamilan pada dokter minimal 1 kali dalam sebulan sebelum usia 8 bulan kehamilan. Kemudian 2 minggu sekali ketika usia 8 bulan kehamilan dan 1 seminggu sekali saat memasuki usia 9 bulan kehamilan.  

Hipertensi kehamilan harus dicegah demi keselamatan ibu dan buah hati tercinta. Semoga ulasan ini membantu Anda terhindar dari hipertensi kehamilan, ya!

 

Source:

https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098

https://www.webmd.com/baby/pregnancy-hypertension

Image Source: