Kanker Kolorektal dan Pentingnya Pola Makan Sehat
June 19, 2019
Penting bagi Ibu Hamil: Deteksi Dini Kelainan Jantung pada Bayi
June 20, 2019
Show all

Kesehatan bagi para Pengungsi dari Negara-Negara Konflik

Kesehatan bagi para Pengungsi dari Negara-Negara Konflik

Tahukah Anda? Berdasarkan data tahun WHO (World Health Organization) tahun 2016, ada 65,6 juta pengungsi dari berbagai negara konflik di dunia. Mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka karena perang dan penganiayaan yang terjadi di sana. Keadaan para pengungsi—terutama anak-anak—di tempat penampungan pengungsi pun begitu menyedihkan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Simak hingga akhir artikel.

Hukum internasional yang melindungi hak para pengungsi dan imigran

Adalah hak setiap orang untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental tertinggi yang dapat dicapai yang telah ditetapkan dalam Konstitusi WHO tahun 1948. Standar dan konvensi hak asasi manusia internasional yang disahkan adalah untuk melindungi hak-hak migran dan pengungsi, termasuk hak mereka atas kesehatan. Meskipun demikian, banyak pengungsi dan migran yang sering kekurangan akses ke layanan kesehatan dan perlindungan keuangan untuk kesehatan.

Masalah kesehatan para pengungsi

Pada dekade terakhir ini, sudah jutaan jumlah total para pengungsi dari negara konflik di seluruh dunia, yang di antaranya dari negara Suriah, Afganistan, Yaman, Sudan, dan etnis Rohingya dari Myanmar. Berdasarkan data WHO, masalah kesehatan yang banyak ditemukan di antara para pengungsi ialah:

  • Diare
  • TBC
  • Batuk kronis
  • Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)
  • Infeksi kulit
  • Malnutrisi
  • Cacingan
  • Anemia
  • Water-borne disease (penyakit yang ditularkan melalui air), seperti kolera
  • Depresi, PTSD (Post traumatic stress disorder), dan masalah mental lainnya.

Tidak hanya itu. Para pengungsi juga tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan yang memadai, karena pasien yang biasanya dirujuk ke rumah sakit kerap mengalami ketidaknyamanan dan bahkan kekerasan. Buruknya pelayanan kesehatan di wilayah penampungan dapat memperburuk kondisi mental maupun fisik para pengungsi.

Apa saja yang dapat dilakukan sebagai penanganan?

Orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan dan konflik di negaranya telah diberikan suaka di tanah asing selama ribuan tahun lamanya. Badan PBB yang membantu para pengungsi adalah UNHCR (juga dikenal sebagai UN Refugee Agency atau Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi), yang dibentuk setelah Perang Dunia II untuk membantu orang-orang Eropa yang terlantar akibat konflik tersebut.

Berdasarkan data UNHCR Indonesia yang berkantor pusat di Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, di Indonesia sendiri, pada tahun 2017, terdapat 14.425 orang total jumlah pengungsi dan pencari suaka (yang masing-masing terdiri dari 8.039 pengungsi dan 6.386 pencari suaka). Mereka datang dari berbagai negara konflik, di antaranya, Afganistan, Pakistan, Ethiopia, Irak, Nigeria, dan Myanmar (pengungsi dari etnis Rohingya).

Adapun tindakan untuk menangani masalah kesehatan pengungsi adalah sebagai berikut:

  1. Pertolongan pertama

Untuk penderita asma atau ISPA misalnya, pertolongan pertamanya adalah: dengan menenangkan korban, membawanya ke tempat yang lebih luas dan sejuk, memosisikan korban setengah duduk, memandu korban untuk mengatur napas, dan memberi napas bantuan dari mulut ke mulut atau dengan selang dan tabung oksigen.

  1. Stabilisasi korban

Melihat kondisi korban dalam beberapa menit, apakah membaik atau sebaliknya. Bila kondisi kian memburuk, saatnya tim paramedis menindak lanjuti.

  1. Tahap evakuasi

Inilah tahap di mana korban membutuhkan bantuan kesehatan yang lebih memadai. Maka, korban pun harus diangkut dengan cara digendong atau diangkat dengan tandu, lalu dipindahkan ke klinik atau pusat kesehatan setempat.

  1. Pengobatan

Prosedur pengobatan yang diperlukan akan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), misalnya untuk memberikan suntikan imunisasi, pengobatan luka luar, dan obat-obatan anti peradangan.

  1. Tahap rujukan ke Rumah Sakit dengan fasilitas dan layanan kesehatan yang jauh lebih memadai bila korban membutuhkan prosedur pengobatan yang lebih rumit.

Di sisi lain, banyak pula bantuan pangan, obat-obatan, dan pakaian layak pakai, serta tenaga profesional medis yang dikirimkan dari banyak negara—termasuk Indonesia ke wilayah pengungsian. Mereka biasanya dikirimkan oleh badan-badan kemanusiaan independen yang ingin turut berpartisipasi membantu menangani masalah kesehatan para pengungsi.

Apa saja masalah kesehatan yang berisiko mengancam kesehatan warga lokal di sekitar penampungan?

Penyakit-penyakit yang diderita pengungsi dengan kondisi kesehatan yang buruk dapat menular pada para warga sekitar dan petugas medis yang menolong mereka. Kondisi medis yang sangat berisiko menular, di antaranya adalah

  • TBC
  • Batuk kronis
  • Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)
  • Infeksi kulit
  • Kolera, dan lainnya.

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan tersebut? Sebagai warga yang tinggal di sekitar penampungan, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Selalu menjaga kebersihan air, makanan, rumah, dan lingkungan sekitarnya.
  • Menjalankan pola makan sehat dan berolahraga secara teratur untuk menjaga stamina tubuh.
  • Mendapatkan vaksin imunisasi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh (berikan vaksin pada hewan peliharaan pula bila Anda memilikinya).
  • Tidak berbagi atau meminjamkan benda pribadi—seperti handuk, pisau cukur, sikat gigi, dan pakaian—dengan para pengungsi
  • Selalu mencuci tangan dengan benar dan bersih, menggunakan sabun dan air mengalir.

Berminat untuk ikut membantu para pengungsi? Yuk, ulurkan tangan Anda, atau setidaknya turut menyumbang untuk mengurangi kemalangan para pengungsi di wilayah penampungan.

Sumber:

http://www.un.org/en/sections/issues-depth/refugees/index.html

https://www.biomedcentral.com/collections/Syria

http://www.euro.who.int/en/countries/turkey/news/news/2018/3/out-of-conflict,-a-new-life-for-syrian-health-workers-in-turkey

http://www.who.int/migrants/en/

https://www.kompasiana.com/chyntiaamd/586a7f111493735c2143a398/masalah-kesehatan-rohingya-sebuah-ironi-lain

https://tirto.id/nasib-tanpa-negara-para-pencari-suaka-di-indonesia-cqgr

https://kumparan.com/@kumparannews/imigrasi-pantau-pengungsi-dari-negara-lain-yang-singgah-di-indonesia

http://meygachandra.blogspot.com/2015/03/materi-pmr-pertolmatengan-pertama.html

Image Source: