Seberapa Amankah Vape Bagi Kesehatan Tubuh?
June 19, 2019
Kesehatan bagi para Pengungsi dari Negara-Negara Konflik
June 19, 2019
Show all

Kanker Kolorektal dan Pentingnya Pola Makan Sehat

Kanker Kolorektal dan Pentingnya Pola Makan Sehat

Kanker kolorektal (gabungan dari kata colon dan rectal) adalah kanker yang muncul pada usus besar yang merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan Anda. Sebagian besar kasus kanker kolorektal dimulai dari gumpalan tumor kecil yang tidak bersifat kanker (jinak) dari sel yang disebut polip adenomatosa (polip). Seiring waktu beberapa polip ini bisa tumbuh menjadi kanker kolorektal.

Penyebab kanker kolorektal

Sel-sel sehat tumbuh dan membelah secara teratur agar tubuh Anda berfungsi normal. Namun ketika DNA sel rusak dan menjadi kanker, sel-sel terus membelah—bahkan ketika sel-sel baru tersebut tidak diperlukan. Ketika sel-sel tersebut menumpuk, mereka membentuk tumor yang dapat mengarah pada kemunculan kanker.

Mutasi gen yang diwariskan di keluarga juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, tetapi faktor penyebab ini hanya terkait dengan persentase kecil jumlah kasus kanker kolorektal di seluruh dunia.

Namun ternyata, ada sindrom langka yang diturunkan dalam keluarga yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, seperti: kanker kolorektal non-kolerisme herediter—juga disebut sindrom Lynch, dan poliposis adenomatosa Familial—sebuah gangguan langka yang menyebabkan berkembangnya ribuan polip pada dinding usus besar dan rektum Anda.

Terdapat pula penelitian terhadap sekelompok orang yang menunjukkan adanya kaitan erat antara pola makan tinggi lemak-rendah serat dan peningkatan risiko kanker kolorektal. Para peneliti sedang mempelajari apakah pola makan ini memengaruhi mikroba yang hidup di usus besar atau menyebabkan peradangan yang dapat menambah risiko kanker.

Gejala awal kanker kolorektal

Beberapa gejala kanker kolorektal yang umum terjadi, di antaranya adalah:

  • Ketidaknyamanan perut—seperti kram, gas, atau rasa nyeri—yang berkepanjangan.
  • Perasaan bahwa usus Anda tidak benar-benar kosong setelah buang air besar.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar, diare, konstipasi atau perubahan konsistensi feses Anda yang berlangsung selama lebih dari empat minggu.
  • Perdarahan rektal atau darah pada feses Anda.
  • Kelelahan atau lemah lunglai ekstrim.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab.

Banyak penderita kanker kolorektal yang tidak mengalami gejala awal penyakit tersebut. Namun, ketika gejala muncul, biasanya bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker pada usus besar Anda.

Siapa saja yang berisiko tinggi menderita kanker ini?

Kemungkinan besar, kanker kolorektal dapat diderita oleh orang-orang yang:

  • Berusia 50 tahun ke atas
  • Terutama berdarah Afrika-Amerika
  • Memiliki riwayat kanker kolorektal atau polip
  • Menderita peradangan usus
  • Mendapat sindrom langka yang diturunkan—seperti yang telah disebutkan di atas, serta riwayat keluarga kanker kolorektal
  • Mengikuti pola makan rendah serat dan tinggi lemak (pola makan tidak sehat)
  • Menjalani gaya hidup yang tidak aktif (jarang berolahraga)
  • Menderita diabetes
  • Menderita obesitas (kelebihan berat badan)
  • Perokok berat
  • Kecanduan minuman beralkohol
  • Menjalani terapi radiasi kanker yang diarahkan ke daerah perut

Dapatkah kanker kolorektal dicegah?

Ya, kanker kolorektal dapat dicegah. Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mencegah kanker kolorektal, yaitu:

  1. Menjalani skrining kanker kolorektal, tes yang mencari adanya kanker sebelum gejala dapat berkembang. Skrining ini sering kali dapat menemukan pertumbuhan tumor yang disebut polip yang dapat dihilangkan sebelum berubah menjadi kanker. Disarankan untuk memulai skrining pada usia 45 tahun.
  2. Ubah pola makan Anda. Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, dan gandum utuh. Makanan yang mengandung banyak sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian telah terbukti menurunkan risiko kanker ini. Kurangi konsumsi daging merah (seperti daging sapi, kambing, babi, atau domba) dan daging olahan (seperti sosis, bakso, dan burger), yang terkait erat dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.

Sebagai informasi tambahan, perbanyak makanan yang banyak mengandung:

  • Serat baik yang meliputi: sereal dan roti gandum, buah plum, buah beri, pepaya, kacang merah, kacang polong, beras merah, serta buah-buahan dan sayuran segar lainnya.
  • Phytochemical—zat non-nutrien seperti flavonoid, polifenol, dan terpena yang banyak ditemukan tomat, jeruk, buah beri, paprika, wortel, brokoli, kubis, dan kacang kedelai.
  • Antioksidan yang baik—termasuk buah-buahan, sayuran, dan jenis teh tertentu.
  • Asam folat, seperti pada buah jeruk dan semua jenis sayuran berdaun hijau gelap, terutama bayam.
  1. Jaga berat badan Anda. Kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko terkena dan meninggal karena kanker kolorektal. Diet sehat dan olahraga teratur dapat membantu Anda mengendalikan berat badan Anda.

Enema kopi: dapatkah metode pengobatan ini mencegah kanker kolorektal?

Enema kopi ialah jenis prosedur pengobatan alternatif dengan cara pembersihan usus besar, di mana kopi yang diseduh dengan air dimasukkan ke dalam usus besar melalui anus.

Prosedur enema kopi mungkin dapat melancarkan BAB (Buang Air Besar) dan meningkatkan stamina tubuh, namun belum ada penelitian yang membuktikan bahwa metode pengobatan ini dapat mencegah kanker kolorektal. Bahkan, disebutkan pula bahwa tubuh manusia sebenarnya dapat mendetoksifikasi dengan sendirinya tanpa bantuan metode pengobatan apapun (berdasarkan jurnal medis The Journal of Lancaster General Hospital yang dirilis pada tahun 2014 lalu).

Jadi, yuk, mulai jalankan pola makan sehat dan gaya hidup aktif untuk mencegah kanker kolorektal sedari sekarang!

 

Sumber:

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-cancer/symptoms-causes/syc-20353669

https://www.cancer.org/latest-news/six-ways-to-lower-your-risk-for-colon-cancer.html

https://www.webmd.com/colorectal-cancer/guide/eating-prevent-cancer#1

https://www.survivornet.com/articles/a-coffee-enema-will-not-prevent-colon-cancer/

https://www.healthline.com/health/coffee-enema#benefits

Image Source: